Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

08/06/14

"Sajak bebas untuk srikandi: Saat perjuangan cita bertemu dengan perjuangan cinta"


Berkerut dahiku. Bahkan sampai memerah mataku, membaca segala tulisan yang amat abstrak ini.
Abstrak. Segalanya berbicara tentang sang Ilahi!

Aku menanggapi. Aku menganalisa dengan cara menafsirnya. Aku mencoba memahami apa yang ku imani!

Tak mudah memang. Apalagi jika menyikut alam berpikir filsafati! Juga, firman yang telah diterjemahkan itu mesti berdiskusi dengan konteks, di mana kita berpijak!

Sering, tangan ini tak mampu lagi menopang buku-buku itu depan wajahku. Bak pohon-pohon yang roboh diterjang ombak pantai Selatan hingga ke Malioboro!

Kadang juga, rasa rindu kepada seorang srikandi di jauh sana bisa menjadi penyemangatku, saat pikiran dan raga mulai melesu. Walau sering tak sampai karena begitu rapatnya pintu hati itu, tapi ku tahu ada sedikit yang tembus melalui celah-celah angin. Otakku menolak lupa tentang dirimu!

Pernah memang aku merintih karena kerinduan, seperti dan seperih apa yang dikatakan dan dirasakan Sujidwo Tedjo pada kekasihnya "Jika dengan j#ncuk pun tak sanggup aku menjumpaimu, dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu?", tapi citaku ternyata lebih kuat, demi cintaku!

Inilah sedikit sajak bebas "di saat perjuangan cita bertemu dengan perjuangan cinta" keberikan untukmu wahai srikandi, misteri sang Ilahi.

*kurasa aku tak mau menafsirkan misteri sang Ilahi yang satu ini. Aku mau menikmati lekuk likunya!
(O2.27|270514|YK)

07/03/14

Wahai Malam

Wahai Malam...
dengan kegelapanMu, apa yang coba kau ajarkan terhadap kekosongan hatiku?
Hatiku kosong. Kosong hingga membuatnya gelap. Maksudku bukannya gelap total sih, wahai Malam...
tapi memang agak sedikit tidak berwarna hingga ia terasa gelap, kosong...

Ada titik-titik cahaya memang di sana. Bersinar... memberi nuansa tersendiri bagi hatiku yang kosong itu.
Titik-titik cahaya itu jika Kau bisa bayangkan, wahai malam... seperti ruangan kosong dan gelap namun sengnya bolong-bolong kecil di sana-sini sehingga cahaya mentari masuk ke ruang itu...
seakan memberi secercah harapan. Seakan ingin mengatakan masih ada cahaya yang bisa dinikmati...

Malam... memang aku punya sahabat-sahabat yang selalu bersamaku. Aku punya keluarga dan para saudara yang selalu menopangku. Mereka itulah yang kuibaratkan dengan titik-titik cahaya itu. Namun... rasanya tetap ada yang kurang. Ada yang hilang sejak setahun lalu, wahai Malam.

Ada orang yang dulunya selalu tertawa di ruangan itu,  marah, menangis, murung, bersemangat, namun kini dia sudah pergi meninggalkan ruangan itu.
Pernah dan masih ku terpikirkan untuk mencari atau bahkan menerima jika ada yang datang untuk menempati ruangan itu, wahai malam. Namun sepertinya belum ada yang pas dengan kursi spesial yang ada di ruangan itu. Satu-satunya kursi yang ada di sana. Mungkin kursi yang kusediakan di ruangan itu kurang nyaman. Atau mungkin mereka yang pada akhirnya tidak nyaman. Aahh... sama saja.

Wahai Malam... apa yang kau coba ajarkan kepadaku?
Bersabar?

[Malam hari. 23.45 7/03/14
Klitren Lor. Gondokusuman.
YK.]

01/06/13

YANG DIBUANG

Permen karet... oh... permen karet...
Kau ternyata begitu menarik
Saking menariknya kau banyak diminati...
Warnamu... bentukmu... rasamu...
ah... kau begitu menarik...

Permen karet... oh... permen karet...
Kau ternyata dibilang enak
Saking enaknya kau diperebutkan banyak orang...
Kau membuat mereka senang... tenang... bahkan dijadikan pelampiasan saat sedih atau marah...
ah... kau dibilang enak...

Permen karet... oh... permen karet...
Kau ternyata rela berkorban
Saking besarnya pengorbananmu banyak yang menyukaimu... tapi kau berkorban hanya untuk seseorang...
Kau digigit... ditekan... hingga kau diperas habis... hanya untuk membuat mereka gembira...
ah... kau rela berkorban...

Permen karet... oh... permen karet...
Mengapa kau dibuang???
Kau dibuang setelah kau beri segalanya... mengapa???
Sudah habiskah rasa manismu???
Rasa pahit yang kau berikan membuat kau dibuang???
Kaukah yang dimaksud 'habis manis sepah dibuang' itu???
ah... permen karet... apa kau ibarat denganku???